Saturday, July 26, 2014

Ucapan Hari Raya "TaqabbalalLaah minnaa wa minkum"

Soalan:

Apakah ada ucapan tertentu yang baik dan menurut ajaran as-Sunnah, untuk diucapkan antara sesama kaum Muslimin bersempena sambutan Hari Raya?

Ingin tahu

Jawapan:

الحمد لله وحدة و الصلاة و السلام على من لا نبي بعده و على آله و صحبه و من تبع هداه
أما بعد

Saya ada menyebutkan berikut dalam tulisan saya:
Saling bertukar ucapan tahniah sempena Hari Raya “Selamat Hari Raya, minal aidil wal fa-iziin, maaf zahir batin” adalah suatu adat yang termasuk daripada cara sambutan perayaan yang disyari‘atkan Islam. Cuma lafaznya perlu diperbetulkan berdasarkan apa yang ada dalam riwayat. Begitu pula ia perlu dihayati dan lafaz yang tepat yang membangkit keinsafan adalah penghayatan makna lafaz-lafaz ucapan tahniah sempena Hari Raya yang ada dalam riwayat; “semoga Allah menerima amalan baik kita (sepanjang Ramadhan khususnya)”

Demikian dalam buku ini (halaman: 68):

Namun saya peringatkan agar pembaca membaca bahagian “Sila lihat nota berkenaan Hari Raya” iaitu (halaman: 113):

# Ucapan bertahniah sempena Hari Raya – amalan at-Tabi‘ien dan lafaz ucapannya menurut ajaran mereka.

Al-Muhamiliy pula meriwayatkannya di dalam kitab: “Salat al-‘Eidain”: 2/129/2 dengan isnad…. isnad ini sahih…daripada Safwan bin ‘Amr as-Saksakiy katanya meriwayatkan: 
“Aku telah mendengar ‘Abdullah bin Busrin dan ‘Abdur Rahman bin ‘A-idz serta Jubair bin Nufair dan Khalid bin Mi‘dan diucapkan kepada mereka pada Hari-hari Raya: TaqabbalalLah minna wa minkum dan mereka pun mengucapkan demikian kepada orang lain”.

Diriwayatkan oleh Abu al-Qasim al-Asbahaniy di dalam kitabnya: “at-Targhieb wa at-Tarhieb”: dalam bentuk manuscript 41/2-42/1 ….dikuatkan dengan apa yang disebutkan…: “al-Jauhar an-Naqiy”: 3/320 Muhammad bin Ziyad meriwayatkan:
“Suatu ketika aku ada bersama Abie Umamah al-Bahiliy dan lainnya dari kalangan para Sahabat Nabi, maka mereka, sewaktu pulang, saling mengucapkan: {TaqabbalalLahu minna wa minka}. Kata Imam Ahmad bin Hambal: Isnadnya Jaiyid (baik- dapat diterima).”
“Aku lihat Abu Umamah al-Bahiliy mengucapkan kepada para temannya pada Hari Raya:
TaqabbalalLahu minna wa minkum (تَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَ مِنْكُمْ).”

Dengan penjelasan itu tadi, saya harapkan agar kita sama-sama mengamalkan yang ada dalam riwayat, iaitu saling mengucapkan: "TaqabbalalLaah minnaa wa minkum" (تَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَ مِنْكُمْ(yang mula mengucapkan dan yang membalas ucapan, sama ucapannya). 

Berikut ini keterangan beberapa orang  'ulama:
(nukilan)


Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah pernah ditanya,
“Apa hukum mengucapkan selamat di hari raya sebagaimana banyak diucapkan oleh orang-orang? Seperti ‘indaka mubarak (semoga engkau memperoleh barakah dihari Idul Fitri) dan ucapan yang senada. Apakah hal ini memiliki dasar hukum syariat ataukah tidak? Jika memiliki dasar hukum syariat bagaimana seharusnya ucapan yang benar?”
Beliau rahimahullah menjawab,
“ Adapun hukum tahniah (ucapan selamat) dihari raya yang diucapkan satu dengan yang lainnya ketika selesai shalat ied seperti 
تَقَبَّلَ اللَّهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ , وَأَحَالَهُ اللَّهُ عَلَيْك 
“Taqabbalallahu minna waminkum wa ahalahullahu ‘alaik” (Semoga Allah menerima (amalan) dari kami dan darimu sekalian dan semoga Allah menyempurnakannya atasmu), dan yang semisalnya, telah diriwayatkan dari sebagian sahabat bahwasanya mereka melakukannya dan para imam memberi keringanan perbuatan ini seperti Imam Ahmad dan yang lainnya. Akan tetapi Imam Ahmad berkata, “Aku tidak akan memulai mengucapkan selamat kepada siapa pun. Namun jika ada orang yang memberi selamat kepadaku akan kujawab. Karena menjawab tahiyyah (penghormatan) adalah wajib. Adapun memulai mengucapkan selamat kepada orang lain maka bukanlah bagian dari sunnah yang dianjurkan dan bukan pula sesuatu yang dilarang dalam syariat. Barangsiapa yang melakukannya maka ia memiliki qudwah (teladan) dan orang yang meninggalkan pun juga memiliki qudwah (teladan). Wallahu a’lam. (Al-Fatawa Al-Kubra, 2/228)

Syaikh Ibnu Ustaimin ditanya,
“Apa hukum tahniah (ucapan selamat) di hari raya? Apakah ada bentuk ucapan tertentu?”
Beliau rahimahullah menjawab,
“Hukum tahniah (ucapan selamat) di hari raya adalah boleh dan tidak ada bentuk ucapan tertentu yang dikhususkan. Karena (hukum asal-pen) setiap adat kebiasaan yang dilakukan orang itu boleh selama bukan perbuatan dosa.”
Dalam kesempatan lain beliau rahimahullah juga ditanya,
“Apa hukum berjabat tangan, berpelukan dan saling mengucapkan selamat hari raya ketika selesai shalat ied?”
Beliau rahimahullah menjawab,
“Hukum semua perbuatan ini tidaklah mengapa. Karena orang yang melakukanya tidak bermaksud untuk beribadah dan mendekatkan diri kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Melainkan hanya sekedar melakukan adat dan tradisi, saling memuliakan dan menghormati. Karena selama adat tersebut tidak bertentangan dengan syariat maka hukumnya boleh.” (Majmu’Fatawa Ibni Utsaimin, 16/ 208-210)

Penerjemah: Tim Penerjemah Muslimah.or.id
Muroja’ah: Abu Rumaysho Muhammad Abduh Tuasikal

(akhir nukilan)

Adapun ucapan selamat : (كُلُّ عَامٍ وَأَنْتُم بِحَيْرٍ) atau yang semisalnya seperti yang banyak dilakukan manusia, maka ini tertolak tidak diterima, bahkan termasuk perkara yang disinggung dalam firman Allah.

أَتَسْتَبْدِلُوْنَ الَّذِيْ هُوَ أَدْنَى بِالَّذِيْ هُوَ خَيْرً

"Artinya : Apakah kalian ingin mengambil sesuatu yang rendah sebagai pengganti yang lebih baik.?"

[Disalin dari buku Ahkaamu Al Iidaini Fii Al Sunnah Al Muthahharah, edisi Indonesia Hari Raya Bersama Rasulullah, oleh Syaikh Ali bin Hasan bin Ali Abdul Hamid Al-Halabi Al-Atsari, terbitan Pustaka Al-Haura', penerjemah Ummu Ishaq Zulfa Husein]

(akhir nukilan)

Kesimpulannya, maka jika ucapan yang ada mengandung erti doa "كُلُّ عَامٍ وَأَنْتُم بِحَيْرٍ" ertinya: "sepanjang tahun anta dalam kebaikan" ditegur oleh Syaikh 'Ali al-Halabi, atau "'Eid Mubaarak" ertinya "Hari Raya yang diberkati" atau "minal 'Aa-idien al-Faa-izien al-Maqbuulien" ertinya "(semoga) anda di kalangan mereka yang berulang kali (bertemu Ramadhan lagi), yang Berjaya lagi Diterima Amalan", maka ucapan "Selamat Hari Raya" (atau dengan tambahannya Maaf Zahir Batin) digantikan dengan "(تَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَ مِنْكُمْ)" ertinya "semoga Allah terima daripada kami (amalan baik kami dan diganjari) dan terima daripada kamu (juga)"

Wallahu a'lam.  

 
Copyright 2011 al-jamaah.sg
Template by freethemelayouts